Perkembangan teknologi modern dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menghadirkan tantangan baru yang menuntut adaptasi tinggi bagi generasi penerus Tentara Nasional Indonesia. Berdasarkan analisis tim redaksi dari laporan yang disiarkan Suara Surabaya, dinamika zaman ini menuntut calon prajurit agar memiliki ketrampilan mumpuni dalam mengelola sistem digital tanpa kehilangan kemampuan analisis fundamental.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Rektor Universitas Hang Tuah Surabaya, Laksamana Muda TNI (Purn) Dr. Ir. Avando Bastari, mengungkapkan bahwa lanskap penugasan militer saat ini jauh berbeda dibanding era pengabdiannya dahulu. Menurut pengalamannya selama 35 tahun berkarier di militer, prajurit masa kini wajib menyeimbangkan kecakapan teknologi dengan ketajaman berpikir kritis, kedisiplinan, serta kerja sama tim yang solid.
"Teknologi ataupun AI ini bukan untuk kita jauhi, tapi justru bagaimana kita bisa memanfaatkan teknologi itu membantu tugas-tugas kita, namun bukan berarti teknologi menguasai kita," ujar Avando dalam keterangannya yang bertepatan dengan momen peringatan HUT ke-81 TNI.
Lebih lanjut, Avando mengingatkan agar generasi muda tidak terjebak dalam jalan pintas yang disediakan oleh sistem otomatisasi tanpa melibatkan nalar dan empati kemanusiaan. Berdasarkan pandangannya, ide orisinal serta daya pikir murni dari manusia jauh lebih bernilai dibandingkan hasil instan yang dikeluarkan oleh teknologi AI.
Selain penguasaan perangkat digital, pengamat pendidikan tinggi militer ini juga menekankan pentingnya pembentukan mental baja, ketenangan di bawah tekanan, serta komunikasi lintas budaya yang efektif. Nilai-nilai kedisiplinan tersebut dinilai krusial agar prajurit TNI senantiasa hadir sebagai pengayom yang membawa kedamaian dan memperkuat persatuan bersama masyarakat.