Aksi kriminalitas jalanan kembali mencoreng keamanan Kota Pahlawan setelah seorang pria paruh baya berinisial Slamet Moelyadi (55) menjadi korban pembacokan secara brutal. Berdasarkan laporan yang dihimpun, insiden mencekam tersebut terjadi ketika korban sedang dalam perjalanan pulang usai mencari nafkah sebagai pemusik di salah satu kafe di Surabaya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan keterangan dari anak korban bernama Fitralandi, peristiwa itu berlangsung pada 16 September 2026 sekitar pukul 00.30 WIB. Saat itu, sang ayah melintasi kawasan Jalan Teuku Umar dengan tujuan menuju daerah Pandegiling sebelum akhirnya dicegat oleh komplotan pelaku di tengah jalan.
Mengutip keterangan keluarga, kelompok pelaku yang berjumlah tiga orang berboncengan dalam satu sepeda motor berniat merampas kendaraan serta alat musik bass milik korban. Meski diadang secara paksa, korban menunjukkan keberanian luar biasa dengan memberikan perlawanan sengit demi mempertahankan harta bendanya.
Akibat perlawanan tersebut, para pelaku yang panik dan terdesak nekat melukai tangan kanan korban menggunakan senjata tajam. Menurut analisis awak media, respons spontan korban untuk melawan membuat komplotan begal tersebut ketakutan lantaran khawatir aksi kejahatan mereka dipergoki oleh warga sekitar jalan raya.
Meskipun mengalami luka sabetan yang cukup serius pada bagian tangan, nyawa korban berhasil selamat dan seluruh barang berharganya tidak sempat dibawa kabur oleh para pelaku. Namun, para pelaku sempat membuang kunci motor korban di sekitar lokasi kejadian sebelum akhirnya kabur tancap gas meninggalkan tempat perkara.
Sebagaimana dilaporkan lebih lanjut, korban langsung dilarikan ke RS Bhayangkara Surabaya untuk mendapatkan tindakan medis darurat. Slamet harus menjalani perawatan intensif selama sepekan penuh yang meliputi transfusi darah sebanyak tiga kali serta tindakan operasi sebelum akhirnya diizinkan pulang pada Rabu (23/9).
Pihak keluarga korban telah resmi melaporkan insiden pembacokan sadis ini ke kantor kepolisian pada 17 September 2026. Kendati demikian, hingga kini para pelaku masih berkeliaran bebas dan belum tertangkap, yang kemudian memicu kekecewaan pihak keluarga akibat lambatnya perkembangan penyelidikan aparat penegak hukum.
Kasus ini sempat viral di berbagai platform media sosial setelah anak korban sengaja membagikannya demi menarik perhatian publik luas. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, viralnya kasus kriminalitas jalanan seperti ini menuntut pihak kepolisian agar bergerak lebih cepat dalam mengidentifikasi pelaku melalui rekaman CCTV guna memberikan rasa aman bagi warga Surabaya.