Bencana kekeringan yang melanda Kabupaten Pacitan menunjukkan eskalasi yang signifikan seiring puncak musim kemarau. Berdasarkan pemantauan awak media, cakupan wilayah yang mengalami krisis air bersih terus bertambah secara masif dan kini telah menjangkau puluhan wilayah administratif di daerah tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pacitan Erwin Andriatmoko memaparkan bahwa jumlah desa yang mengajukan permohonan pasokan air bersih telah menyentuh angka 73 desa. Peningkatan ini tercatat melonjak tajam dibandingkan catatan bulan sebelumnya, meskipun dalam satu desa tidak seluruh dusun mengalami krisis air yang sama parahnya.
Menanggapi situasi darurat ini, tim BPBD Pacitan telah merampungkan pemetaan wilayah sasaran distribusi secara komprehensif. Pendataan dilakukan secara terperinci berdasarkan titik koordinat hingga tingkat rukun tetangga dan rukun warga guna memastikan bantuan logistik air bersih tepat sasaran.
Berdasarkan rekrapan data mutakhir, tercatat sebanyak 21.112 kepala keluarga yang tersebar di 246 dusun kini berada dalam kondisi darurat krisis air bersih. Pemerintah daerah telah melakukan perhitungan teknis secara cermat berdasarkan jumlah jiwa dan standar kebutuhan liter air per kapita untuk alokasi distribusi.
Di tengah meluasnya cakupan wilayah terdampak, status tanggap darurat kekeringan di Kabupaten Pacitan resmi diperpanjang. Kebijakan yang sebelumnya ditetapkan hingga bulan Oktober tersebut kini diperpanjang hingga November mendatang guna memaksimalkan penanganan bencana.
Perpanjangan status tanggap darurat ini diambil menyusul tingginya eskalasi kebutuhan warga yang masih bergantung pada pasokan air droping. Pihak BPBD berharap fenomena cuaca segera membawa hujan agar beban operasional distribusi tidak semakin membengkak di kemudian hari.