Sektor ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia dinilai menyimpan potensi yang sangat besar untuk dijadikan motor penggerak sumber pertumbuhan ekonomi baru. Peluang emas tersebut tidak hanya datang dari sektor industri halal, tetapi juga merambah ke ranah keuangan, perdagangan, sektor pariwisata, hingga pengembangan usaha masyarakat secara luas.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Menurut Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Yono Haryono, aktivitas ekonomi syariah saat ini telah menjelma menjadi bagian penting dalam roda perekonomian global. Hal tersebut dibuktikan melalui tingginya angka konsumsi masyarakat muslim di berbagai belahan dunia serta pesatnya pertumbuhan total aset keuangan syariah secara internasional.
"Berdasarkan data Bank Indonesia, konsumsi global masyarakat muslim pada sektor ekonomi syariah mencapai sekitar 2,60 triliun dolar AS pada 2024. Sementara aset keuangan syariah global mencapai 9,72 triliun dolar AS," ujar Yono dalam kegiatan Capacity Building Media Bank Indonesia Jawa Timur 2026 di Solo, Jawa Tengah.
Berdasarkan analisis dan pengamatan awak media, posisi Indonesia saat ini berhasil menempati peringkat keempat dunia dalam hal perkembangan ekonomi serta keuangan syariah global. Capaian membanggakan ini berada di bawah Malaysia, Uni Emirat Arab, serta Arab Saudi, yang didorong oleh kekuatan sektor modest fashion dan industri makanan halal.
Kendati demikian, Yono mengungkapkan bahwa masih terdapat ruang yang sangat luas untuk mengoptimalkan sektor-sektor potensial lainnya. Berbagai bidang seperti pariwisata ramah muslim, industri farmasi dan kosmetik halal, pembiayaan syariah, hingga penguatan literasi serta inklusi ekonomi syariah masih memerlukan perhatian khusus agar perkembangannya semakin masif.