Sekolah Progresif Bumi Shalawat di Sidoarjo, Jawa Timur, mengambil langkah inovatif dalam dunia pendidikan dengan mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas rumah kaca sebagai sarana pembelajaran ilmu pengetahuan alam sekaligus penguatan ketahanan pangan di lingkungan sekolah.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan pengamatan tim redaksi, pemanfaatan teknologi pertanian modern ini tidak sekadar menjadi fasilitas pelengkap, melainkan wadah edukasi praktis bagi para pelajar untuk memahami siklus ekosistem dan praktik agrikultur secara langsung.
Menurut guru pembina program rumah kaca Sekolah Bumi Shalawat, Muhammad Ilham Elian Galih, seluruh hasil budidaya dari fasilitas tersebut memiliki fungsi ganda yang bermanfaat langsung bagi komunitas sekolah maupun internal yayasan.
"Hasil budidaya tersebut nantinya akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dapur asrama serta dibagikan kepada para guru dan internal yayasan," ujar Galih saat memberikan keterangan di Sidoarjo.
Lebih lanjut, Galih menjelaskan bahwa program ini dirancang khusus untuk melatih para siswa dari jenjang Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menengah Atas agar memiliki pemahaman mendalam mengenai konsep agrikultur modern yang berkesinambungan dan ramah lingkungan.
Dalam pelaksanaannya, para siswa dilibatkan secara aktif dan bergantian mulai dari tahap penyemaian benih, proses perawatan harian, hingga masa panen dengan didampingi secara intensif oleh guru pembina.
Dari analisis awak media, pelibatan langsung peserta didik dalam aktivitas bercocok tanam ini mampu membangun jiwa kemandirian serta menumbuhkan kesadaran pentingnya menjaga ketersediaan pangan sejak usia sekolah.
Sebagai contoh komoditas yang dikembangkan, tanaman pokcoy yang dibudidayakan siswa tercatat memiliki siklus pertumbuhan yang relatif cepat, yakni sekitar dua minggu dari masa penyemaian hingga siap dipanen.
Dalam sekali siklus panen, hasil tanaman pokcoy mampu mencapai kisaran lima hingga tujuh kilogram, yang besar kecilnya sangat bergantung pada jumlah bibit yang disemai serta kondisi pertumbuhan di dalam rumah kaca.
Selain pokcoy, varietas tanaman yang dibudidayakan oleh para siswa juga cukup beragam, mulai dari bayam merah, selada air, hingga buah melon varietas unggulan bernilai ekonomis tinggi.
Menariknya, hasil panen buah melon varietas unggulan tersebut tidak hanya dikonsumsi sendiri, tetapi juga dipasarkan kepada masyarakat luas dan para wali murid guna melatih jiwa kewirausahaan sejak dini.
"Ke depan, kami berharap budidaya melalui rumah kaca ini dapat dikembangkan untuk memperkuat ketahanan pangan siswa, serta membantu siswa mendalami konsep agrikultur moderen yang berorientasi bisnis," pungkas Galih.