Panggung politik nasional kembali mencuri perhatian publik setelah Presiden RI Prabowo Subianto resmi melantik Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang pertama. Menariknya, posisi strategis baru tersebut diemban secara merangkap dengan jabatan lamanya sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Pelantikan yang digelar pada Kamis tersebut langsung memantik rasa penasaran publik, terutama terkait latar belakang dan kondisi finansial sang pejabat tinggi negara. Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) periodik 2025 yang disetorkan ke KPK, Bahlil tercatat memiliki kekayaan fantastis yang menyentuh angka ratusan miliar rupiah.
Mengutip laporan dari Antara, total kekayaan yang dilaporkan Bahlil kepada Komisi Pemberantasan Korupsi pada 31 Maret 2026 mencapai Rp344.415.518.982 atau sekitar Rp344 miliar. Sebagian besar portofolio aset kekayaan tersebut didominasi oleh kepemilikan properti berupa tanah dan bangunan.
Dari analisis awak media terhadap rincian LHKPN tersebut, Bahlil diketahui memiliki total 19 aset tanah dan bangunan yang tersebar di berbagai daerah di tanah air. Mayoritas aset properti miliknya berlokasi di Jayapura, disusul beberapa aset di Jakarta Selatan, Gianyar, Sragen, hingga Sleman, dengan aset tanah terluas berada di kawasan Jayapura.
Penunjukan Bahlil untuk memimpin kementerian baru ini dinilai sebagai langkah serius pemerintah dalam menggenjot program hilirisasi industri nasional serta mempercepat transisi energi. Di sisi lain, transparansi kekayaan yang tercatat dalam LHKPN ini menjadi sorotan publik seiring dengan bertambahnya tanggung jawab besar yang kini dipikulnya di kabinet.