Keputusan investigasi Komisi Independen yang menyatakan Manchester City bersalah atas pelanggaran aturan keuangan Liga Primer Inggris selama sembilan musim mengejutkan dunia sepak bola. Klub berjuluk Citizens tersebut terbukti melakukan rekayasa laporan keuangan dan menyembunyikan kondisi finansial asli dari regulator serta auditor independen.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis tim redaksi, modus kecurangan finansial yang dilakukan melibatkan kontrak semu dengan mitra komersial serta suntikan dana terselubung dari pemilik klub, Abu Dhabi United Group. Skema artifisial ini ditengarai mampu menghemat biaya operasional secara signifikan demi mematuhi batasan pengeluaran liga secara ilegal.
Kendati demikian, spekulasi liar mengenai sanksi pencabutan gelar juara dan degradasi dinilai tidak serta-merta relevan. Sebagaimana dilaporkan oleh para pengamat sepak bola, sistem pertandingan di atas lapangan berjalan secara independen dan murni ditentukan oleh performa para pemain di arena hijau tanpa adanya intervensi match fixing.
Mengutip perbandingan sejarah dari skandal Calciopoli di Serie A Italia, pencabutan gelar juara umumnya dijatuhkan ketika terbukti ada manipulasi hasil pertandingan secara langsung di lapangan. Mengingat kasus Manchester City murni berkutat pada pelanggaran finansial dan administrasi, sanksi tegas yang proporsional dirasa lebih tepat sasaran tanpa harus mencederai sejarah kompetisi.