Klub-klub kontestan Premier League kini tengah dilanda kekhawatiran besar menyusul celah regulasi yang memungkinkan Manchester City tetap tampil di pentas Liga Champions musim depan. Situasi panas ini terjadi di tengah ancaman hukuman berat, termasuk potensi degradasi dari kasta tertinggi sepak bola Inggris akibat pelanggaran regulasi keuangan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan investigasi komisi independen, klub berjuluk The Citizens tersebut terbukti menggunakan kontrak fiktif guna mendongkrak laporan pendapatan serta menyembunyikan pengeluaran fantastis. Berbagai opsi sanksi mulai dari pengurangan poin masif, pencabutan gelar juara, hingga pengusiran dari liga kini tengah berada di atas meja.
Namun, mengutip laporan dari BBC Sport, terdapat celah aturan yang membuat Manchester City berpeluang besar mengamankan tiket kompetisi Eropa. Tim redaksi mengamati bahwa regulasi lisensi UEFA tidak memperhitungkan sanksi atau pelanggaran historis domestik yang dilakukan oleh suatu klub di kompetisi lokal mereka.
"Klub-klub pesaing menilai situasi ini sangat tidak adil dan tidak dapat diterima jika City masih menikmati keuntungan finansial di Eropa setelah melanggar aturan," demikian ungkap salah satu sumber pengamat sepak bola Inggris menyoroti reaksi para petinggi klub rival.
Berdasarkan analisis aturan UEFA, pencabutan lisensi Eropa umumnya hanya dijatuhkan jika klub memiliki tunggakan utang, kasus pengaturan skor dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, atau konflik integritas kepemilikan klub ganda. Karena pelanggaran Man City bersifat finansial historis domestik, syarat pencabutan tersebut tidak terpenuhi.
Sementara itu, pihak manajemen Manchester City secara tegas tetap bersikeras menyatakan tidak bersalah dan telah resmi mengajukan banding atas putusan tersebut. Proses hukum lanjutan ini diperkirakan akan memakan waktu beberapa pekan ke depan sebelum keputusan final sanksi benar-benar dijatuhkan.