Suasana belajar di SMPN 1 Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, mendadak berubah mencekam ketika puluhan siswa secara serentak mengeluhkan gangguan pencernaan yang parah. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, insiden ini memicu kepanikan pihak sekolah karena antrean panjang tak terhindarkan di fasilitas toilet akibat gejala diare massal.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan di lapangan, tercatat sebanyak 44 pelajar mengalami gejala klinis mulai dari sakit perut melilit, pusing hebat, mual, muntah, hingga diare. Kepala SMPN 1 Mojoanyar Ely Rosidah menyatakan bahwa ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) langsung lumpuh total lantaran dipenuhi oleh siswa yang kesakitan sebelum akhirnya dilarikan ke fasilitas medis terdekat.
"Awalnya kami bawa ke UKS, sampai UKS penuh. Kemudian kami hubungi Puskesmas, langsung dikirim tenaga kesehatan dan ambulans," jelas Ely kepada awak media di lingkungan sekolah.
Sejumlah korban menceritakan bahwa gejala tersebut muncul setelah mereka menikmati paket makanan bergizi gratis atau MBG yang dibagikan pihak sekolah. Menu yang disajikan saat itu berupa nasi, sate ayam bersaus kacang, lengkap dengan acar timun wortel serta buah anggur muscat pasokan dari SPPG Jabon Mojoanyar.
Salah satu siswi kelas 8, Alvina, mengaku mulai merasakan sakit perut luar biasa dan muntah-muntah ketika mengikuti kegiatan sekolah. Keluhan serupa juga disampaikan oleh rekan seangkatannya, Azahra Safira, yang mengalami pusing serta diare akut sejak malam hari sebelumnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto Dyan Anggrahini Sulistyowati merinci bahwa dari total 44 siswa yang terdampak, sebagian besar sempat dievakuasi ke Puskesmas Gayaman dan RS Gatoel. Hingga saat ini, sebanyak 9 siswa dilaporkan masih harus menjalani rawat inap intensif demi memulihkan kondisi kesehatan mereka.
"Ada yang mengalami keluhan kemarin malam, ada yang baru tadi pagi mulai bergejala. Saat ini, yang masih menjalani perawatan 9 siswa, yang 8 siswa sudah pulang," ungkap Dyan memberikan keterangan resmi.
Meski dugaan awal mengarah pada menu makanan bergizi gratis yang dibagikan, pihak Dinas Kesehatan menegaskan perlunya investigasi mendalam sebelum menarik kesimpulan final. Mengingat dapur pemasok mendistribusikan hingga 1.500 porsi ke dua sekolah berbeda sementara yang bergejala hanya puluhan anak, uji laboratorium menjadi kunci utama penelusuran.
"Maka jangan justifikasi dulu, makanya perlu kami telusuri, harus ada uji laboratorium," tandas Dyan menutup penjelasan terkait insiden keracunan massal tersebut.