Tragedi tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Masalembo, Laut Jawa, menyisakan kisah perjuangan hidup dan mati yang sangat mencekam bagi para penyintasnya. Salah satu korban selamat yang berhasil lolos dari maut adalah Munawi, seorang pria berusia 53 tahun asal Kabupaten Mojokerto yang sehari-hari bekerja sebagai koki di kapal tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan penuturan Munawi saat ditemui di kediamannya di Kecamatan Mojoanyar, malapetaka itu bermula pada Minggu dini hari sekitar pukul 01.00 WIB. Suasana pelayaran yang semula berjalan normal mendadak berubah menjadi kepanikan massal ketika air laut mulai masuk ke dalam kabin hingga mencapai ketinggian dada orang dewasa.
Menurut pengamatan tim redaksi, insiden di tengah laut lepas pada waktu dini hari selalu menghadirkan tantangan psikologis dan evakuasi yang jauh lebih berat akibat minimnya jarak pandang. Hal tersebut dirasakan langsung oleh Munawi yang sempat terpisah dari rekan-rekan sekamarnya setelah kapal mengalami mati listrik total dan dihantam ombak setinggi tiga meter.
"Saya langsung bilang jangan panik dan pakai rompi penolong. Sekitar 15 menit terjadi kapal blackout, kapal semakin miring dan dihantam ombak tiga meter, saya terpental," ungkap Munawi mengenang detik-detik menegangkan ketika kapal mulai miring dan tenggelam.
Meski sempat mengalami kram pada tangannya di tengah gulita malam, tekad kuat untuk bertahan hidup membuat Munawi nekat berenang demi meraih sebuah sekoci berwarna biru. Di dalam sekoci penyelamatan tersebut, ia bersama enam orang lainnya harus pasrah terombang-ambing di tengah ganasnya ombak Laut Jawa selama kurang lebih sembilan jam.
Dari analisis awak media, pengalaman panjang korban yang telah berkecimpung di dunia kelautan selama lebih dari dua dekade sangat membantu ketenangannya dalam menghadapi situasi darurat. Selama berjam-jam terkatung-katung tanpa makanan, ia hanya bisa terus melantunkan kalimat sholawat sambil bertahan di atas sekoci darurat.
Harapan hidup akhirnya muncul ketika sebuah kapal nelayan asal Pati, Jawa Tengah, melintas di lokasi kejadian dan memberikan pertolongan darurat. Setelah dievakuasi dan sempat menjalani perawatan medis intensif di Banjarmasin akibat kelelahan serta tekanan darah tinggi, Munawi akhirnya berhasil dipulangkan kembali ke tanah kelahirannya di Mojokerto dengan pendampingan pihak berwenang.