Jawa Timur menempati posisi puncak sebagai provinsi utama penghasil telur ayam ras nasional, dengan segala pasokan penting yang berpusat di Kabupaten Blitar. Wilayah selatan Jawa ini dikenal luas sebagai urat nadi ketahanan protein Indonesia karena mampu menyuplai hingga 40 persen kebutuhan telur di seluruh Nusantara.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan penelusuran sejarah, ekosistem peternakan kerakyatan di Blitar bukanlah instan, melainkan dirintis dari bawah oleh warga desa sejak pertengahan era Orde Baru di kisaran tahun 1984 hingga 1985. Salah seorang saksi hidup perkembangan tersebut adalah Suryono, peternak asal Desa Suruhwadang, Kecamatan Kademangan, yang mengawali usahanya hanya dengan memelihara 500 ekor ayam.
Mengutip laporan dari pengalaman para peternak lokal, ketekunan dan kerja keras secara turun-temurun membuat populasi ayam petelur terus berkembang pesat hingga ribuan ekor per peternak. Perjalanan panjang tersebut juga diuji oleh berbagai cobaan berat, mulai dari krisis moneter tahun 1998 hingga hantaman wabah flu burung pada dekade berikutnya.
Namun, di balik status mentereng sebagai imperium telur nasional, kondisi para peternak di Blitar saat ini tengah berada dalam fase yang memprihatinkan akibat himpitan biaya produksi yang membumbung tinggi. Menurut pengakuan Suryono, harga bahan baku pakan seperti jagung giling dan konsentrat melonjak drastis, sementara harga jual telur di tingkat peternak justru merosot jauh di bawah acuan pemerintah.
Pengamatan dari awak media menunjukkan bahwa ketimpangan harga antara pakan dan produk akhir ini telah berlangsung berbulan-bulan tanpa adanya solusi permanen dari pihak berwenang. Jika persoalan tata niaga ini tidak segera diselesaikan secara komprehensif, eksistensi Blitar sebagai penopang utama pasokan protein rakyat dikhawatirkan akan terancam.