Lamongan yang selama ini melekat dengan predikat sebagai salah satu lumbung padi utama di Jawa Timur kini mengambil langkah strategis baru. Pemerintah Kabupaten Lamongan tidak hanya ingin mempertahankan posisi sebagai penyangga pangan nabati, melainkan mulai memperluas fokus untuk memperkuat sektor peternakan guna memenuhi kebutuhan protein masyarakat secara berkelanjutan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Langkah ekspansif tersebut diwujudkan melalui kemitraan strategis antara Pemkab Lamongan dan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Berdasarkan pengamatan awak media, kolaborasi ini difokuskan pada penyusunan peta jalan atau roadmap ketahanan pangan berbasis kawasan, yang ditandai dengan peresmian tugu kerja sama serta program pengabdian masyarakat di Desa Klagensrampat, Kecamatan Maduran.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menegaskan bahwa pengembangan sektor peternakan menjadi pilar penting dalam memperluas potensi ekonomi daerah. Menurutnya, penguatan ini mencakup seluruh komoditas ternak yang ada di wilayah tersebut agar mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat luas. "Ini sebagai salah satu support dan dorongan bagi Pemerintah Kabupaten Lamongan yang akan juga menjadikan Lamongan ini sebagai lumbungnya ternak. Tidak hanya lumbung padi, tapi juga lumbung protein, lumbung ternak, termasuk semua ternak yang ada di Lamongan ini," ujar Yuhronur.
Dari analisis tim redaksi, keberhasilan sebuah program peternakan daerah sangat bergantung pada kepastian ekosistem usaha dari hulu ke hilir. Menyadari hal tersebut, Pemkab Lamongan saat ini tengah memproses penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perlindungan Peternak dan Peternakan untuk memberikan payung hukum yang kuat bagi para pelaku usaha.
Regulasi tersebut disiapkan agar para peternak lokal mendapatkan jaminan stabilitas harga serta pembinaan yang terstruktur dari pemerintah. "Sehingga nanti masyarakat, khususnya peternak ini akan terlindungi, mendapatkan kepastian harga, dan juga mendapatkan kepastian untuk pembinaan mereka," jelas Yuhronur lebih lanjut mengenai pentingnya regulasi daerah tersebut.
Sebagai langkah awal implementasi roadmap, Desa Klagensrampat dipilih secara khusus sebagai lokasi percontohan pengembangan peternakan unggas, khususnya komoditas itik. Model peternakan terintegrasi di desa ini diproyeksikan menjadi percontohan yang nantinya dapat direplikasi ke berbagai wilayah lain di Kabupaten Lamongan secara bertahap.
Dekan FKH Unair periode 2026, Prof Dr Lilik Maslachah, menyatakan bahwa pihaknya berkomitmen penuh mengawal pelaksanaan proyek percontohan ini selama dua tahun ke depan. Sinergi antara akademisi dan pemerintah daerah diyakini mampu mempercepat adopsi teknologi serta manajemen peternakan yang modern di tengah masyarakat. "Sebagai pilot project ini nanti akan mempercepat perluasan," tutur Lilik.
Melalui sinergi lintas sektor dan dukungan regulasi yang komprehensif, Lamongan optimis mampu bertransformasi menjadi pusat produsen pangan dan protein yang tangguh. Langkah visioner ini diharapkan tidak hanya mendongkrak perekonomian lokal, tetapi juga memperkokoh ketahanan pangan nasional di masa depan.