Pasar keuangan global kembali diguncang oleh tekanan hebat di sektor obligasi menyusul proyeksi suram dari lembaga keuangan raksasa dunia, BNP Paribas. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, lonjakan imbal hasil atau yield obligasi jangka panjang Amerika Serikat tidak hanya mengancam stabilitas pasar surat utang, tetapi juga mulai memberikan tekanan psikologis yang berat terhadap pergerakan pasar saham global.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Mengutip laporan yang dirilis oleh BNP Paribas dalam catatan klien mereka, yield US Treasury tenor 30 tahun diprediksi akan terus merangkak naik hingga menyentuh level 5,6 persen dalam beberapa bulan ke depan. Angka ini melanjutkan tren kenaikan signifikan setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak tahun 2004, di mana posisi yield sempat berada di kisaran 5,43 persen dari sebelumnya 4,83 persen pada awal tahun.
Berdasarkan analisis awak media, tren kenaikan yield obligasi ini dipicu oleh kombinasi berbagai tekanan ekonomi makro yang kompleks. Faktor utama pendorongnya meliputi kekhawatiran atas lonjakan harga minyak yang memicu ketakutan inflasi lanjutan, membengkaknya utang pemerintah, hingga tingginya permintaan pinjaman baik dari sektor pemerintah maupun korporasi teknologi yang gencar mendanai infrastruktur kecerdasan buatan.
Pihak BNP Paribas memetakan tiga katalis utama yang akan semakin memperparah gejolak pasar obligasi dalam waktu dekat. Katalis pertama adalah siklus kenaikan suku bunga baru oleh Federal Reserve, di mana bank sentral AS tersebut telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September lalu dan diprediksi masih akan melanjutkan pengetatan moneter lanjutan sepanjang tahun 2026 hingga 2027.
Langkah pengetatan tersebut diyakini akan mendongkrak beban bunga yang harus dibayarkan oleh pemerintah AS secara drastis karena sebagian besar pinjaman Treasury dilakukan pada ujung kurva jangka pendek. "Jika the Fed merealisasikan empat kali kenaikan yang telah diperhitungkan pasar, beban bunga Treasury akan naik sebesar USD116 miliar pada tahun pertama dan sekitar USD168 miliar pada tahun kedua," ungkap Guneet Dhingra selaku Head of US Rates Strategy BNP Paribas dalam catatannya.
Katalis kedua yang memperburuk situasi adalah kembali melelebarnya defisit anggaran pemerintah akibat kebijakan pemotongan tarif dan pengembalian dana, serta tingginya suku bunga jangka panjang yang menciptakan lingkaran setan fiskal. Sementara itu, katalis ketiga berkaitan dengan ekspektasi belanja fiskal pasca-pemilu paruh waktu di AS, di mana pasar mungkin keliru mengira bahwa belanja pemerintah akan menurun akibat dinamika politik kongres, padahal pengeluaran sektor pertahanan justru diproyeksikan melonjak tajam.