Insiden dugaan keracunan massal yang melibatkan puluhan pelajar di Kota Blitar mendapat sorotan langsung dari orang nomor satu di daerah tersebut. Sebanyak 20 siswa dari SLB Negeri 1 Kota Blitar dan SMP atau MTs Al Muhafizoh dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah menyantap hidangan Makan Bergizi Gratis atau MBG yang disediakan oleh SPPG Cik Ditiro pada Rabu (16/9/2026).
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Menanggapi insiden tersebut, Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin yang akrab disapa Mas Ibin menilai pihak SPPG Cik Ditiro telah menunjukkan respons yang cepat dan bertanggung jawab. Berdasarkan laporan yang diterima tim redaksi, pihak penyedia langsung menarik seluruh sisa menu yang telah dibagikan begitu mengetahui adanya keluhan dari para siswa guna mencegah meluasnya dampak.
"Tapi saya kira kemarin juga sigap. Jadi beberapa tahu ada kejadian langsung ditarik. Ini bentuk tanggung jawab SPPG. SPPG sangat cermat mengantisipasi," ujar Ibin saat memberikan keterangan pers pada Jumat (25/9/2026).
Lebih lanjut, Ibin mengungkapkan bahwa dari total hampir 60.000 porsi makanan yang didistribusikan setiap harinya di Kota Blitar, jumlah siswa yang terdampak masih berada dalam batas proporsi yang kecil. Kendati demikian, ia tidak menampik bahwa insiden ini dipicu oleh kurangnya kehati-hatian dalam proses seleksi bahan makanan.
"Kalau SOP-nya sudah bagus. Hanya kurang teliti dalam memilih bahan baku makanan. Saya kira ini tidak menjadikan semua MBG, semua SPPG tidak baik. Tidak," tegas Ibin sambil menekankan pentingnya konsistensi pengawasan di masa mendatang.
Berdasarkan analisis awak media, insiden ini menjadi pengingat penting bagi seluruh satuan pelayanan gizi untuk memperketat kontrol kualitas bahan pangan sebelum diolah. Di sisi lain, dari total 20 siswa yang terdampak, sebagian besar sempat dilarikan ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis intensif, termasuk satu siswa yang mengalami serangan panik akibat menahan rasa sakit.