Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami tekanan pada awal perdagangan akhir pekan ini. Mengacu pada data pasar pagi hari, mata uang Garuda tercatat melemah tipis sebesar 17 poin atau sekitar 0,09 persen yang membawanya ke posisi Rp17.933 per dolar AS.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Pergerakan pelemahan ini melanjutkan tren koreksi setelah sebelumnya mata uang lokal tersebut ditutup pada level Rp17.916 per dolar AS. Tekanan eksternal kembali mendominasi pasar keuangan domestik menyusul dinamika kebijakan moneter global yang kian ketat.
Menurut Josua Pardede Chief Economist Permata Bank, pelemahan nilai tukar rupiah kali ini didorong oleh meningkatnya ekspektasi pelaku pasar terhadap langkah pengetatan lanjutan yang akan diambil oleh bank sentral AS atau The Fed. "Data PMI AS yang lebih kuat dari perkiraan secara signifikan meningkatkan ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan The Fed lebih lanjut, dengan pasar kini memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga hingga 50 bps sepanjang sisa 2026", ucap Josua.
Berdasarkan laporan data Flash PMI AS periode September, aktivitas bisnis di negara tersebut menunjukkan pertumbuhan yang cukup solid dan melampaui proyeksi sebelumnya. Tercatat, indeks Composite PMI melonjak ke level 58,4 dari posisi bulan sebelumnya di angka 56,0, yang sekaligus mencetak rekor tertinggi sejak Juli 2021.
Dari analisis awak media, penguatan data makroekonomi AS tersebut justru menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan berkembang termasuk Indonesia karena memperbesar peluang bank sentral AS mempertahankan kebijakan agresif. Saat ini, instrumen harga di pasar keuangan bahkan mengimplikasikan probabilitas hampir 64 persen untuk skenario kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober 2026 mendatang.