Aksi membawa kucing peliharaan mengenakan kostum unik ke kawasan keramaian Jalan Tunjungan, Surabaya, baru-baru ini mendadak viral di berbagai platform media sosial. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, fenomena tersebut langsung mengundang perhatian publik sekaligus memicu perdebatan luas mengenai batasan dalam memperlakukan hewan peliharaan di ruang publik yang bising.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Menanggapi hal tersebut, pemerhati satwa kesayangan dari Divisi Klinik Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Dr Boedi Setiawan, MP., Drh menegaskan bahwa aspek kesejahteraan satwa atau animal welfare harus selalu menjadi prioritas utama pemilik. Menurutnya, setiap orang yang memelihara hewan wajib memahami secara mendalam kebutuhan dasar dari peliharaan mereka agar tidak merasa tertekan.
"Kalau kita memelihara itu kan diperhatikan aspek kesejahteraan hewannya ya, animal welfare-nya harus kita perhatikan. Apa yang dibutuhkan hewan itu harus tahu," ujar Boedi saat dihubungi, Selasa (22/9/2026).
Lebih lanjut, prinsip kesejahteraan hewan mencakup kebebasan dari rasa lapar dan haus, terhindar dari tekanan atau kecemasan, serta terlindung dari berbagai risiko penyakit. Selain itu, hewan juga harus diberi keleluasaan untuk mengekspresikan perilaku alami mereka seperti bersosialisasi dan berinteraksi.
"Kemudian harus kita mengekspresikan naluri alaminya misalnya perlu teman ya, kalau bisa ada jodohnya gitu. Dipelihara supaya dia bisa bereproduksi, kemudian sosialisasi juga ada yang lain, hewan yang lain, kucing yang lain," tuturnya.
Terkait kucing yang dibawa ke area publik seperti Jalan Tunjungan, Boedi menilai penting untuk mencermati latar belakang serta tujuan pemiliknya. Pasalnya, aktivitas semacam itu kerap kali disalahgunakan sebagai sarana untuk menarik perhatian demi kepentingan penggalangan donasi.
"Nah, sekarang apa kita harus paham juga alasannya mereka itu ke sana. Itu yang latar belakangnya itu yang penting. Apa nanti tujuannya itu ada kayak donasi ya, untuk mendapatkan bantuan biaya pemeliharaan," jelas Boedi.
Dia pun mengingatkan agar aktivitas kreatif di jalanan tidak berubah wujud menjadi bentuk eksploitasi terselubung terhadap satwa. Sebagaimana dilaporkan, penggalangan dana untuk perawatan hewan sebenarnya dapat ditempuh melalui jalur yang jauh lebih etis dan ramah hewan tanpa harus membawanya ke tengah kebisingan kota.
"Lebih baik dia bikin profile kayak gitu ya, kemudian ngajukan proposal, ada cat lover, bisa dijelaskan ada kucing ini, biayanya disebut dan minta misalkan donasi melalui proposal lebih baik daripada eksploitasi hewan," tambahnya.
Berdasarkan analisis awak media, kucing pada dasarnya membutuhkan lingkungan tenang yang sesuai dengan insting biologis mereka, bukan tempat terbuka yang dipenuhi kebisingan kendaraan bermotor. Oleh karena itu, pemerintah daerah didorong segera merumuskan regulasi tegas guna mencegah potensi eksploitasi satwa di ruang publik.