Dana Moneter Internasional menyoroti fenomena mengkhawatirkan terkait gelombang pengangguran di kalangan kaum muda berpendidikan tinggi di berbagai negara kawasan Asia yang terus meroket.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan terbaru lembaga tersebut, tingkat pengangguran pemuda berpendidikan pascasarjana di sejumlah wilayah Asia Selatan bahkan dilaporkan telah menembus angka lebih dari 40 persen.
Sri Lanka tercatat menjadi negara dengan tingkat pengangguran tertinggi di kategori ini mencapai 43 persen untuk usia 15 hingga 24 tahun, disusul ketat oleh India dan Bangladesh.
Menurut analisis dari pengamatan tim redaksi, kondisi ini menggambarkan adanya jurang pemisah yang lebar atau ketidaksesuaian mendasar antara dunia pendidikan tinggi dan kebutuhan riil industri.
Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF, Krishna Srinivasan, mengungkapkan bahwa tenaga kerja muda yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi kini semakin kesulitan menemukan posisi yang sepadan.
"Tenaga kerja muda yang berpendidikan tinggi kesulitan menemukan posisi yang sesuai dengan kualifikasi mereka," ujar Srinivasan dalam laporannya.
Tidak hanya di Asia Selatan, tantangan serupa juga membayangi negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia yang mencatat angka pengangguran pemuda terdidik di kisaran 18 persen.
Situasi pasar kerja global diprediksi bakal semakin tertekan dengan masifnya adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang berpotensi memangkas posisi kerja tingkat pemula.
Kehadiran teknologi canggih tersebut dikhawatirkan menutup pintu masuk utama bagi para pencari kerja fresh graduate yang mengandalkan pengalaman awal di sektor administratif maupun teknis.
Berdasarkan proyeksi masa depan, tantangan ekonomi ini menuntut reformasi pendidikan yang lebih adaptif agar mampu mengimbangi perubahan teknologi dan lonjakan angkatan kerja global.