Kawasan Jalan Tunjungan, Surabaya, baru-baru ini mendadak ramai menjadi sorotan publik di media sosial setelah kemunculan sejumlah kucing menggemaskan namun berpenampilan mengenakan kostum unik. Di tengah keramaian pusat kota tersebut, perilaku hewan-hewan berbulu ini justru menuai perdebatan hangat lantaran dinilai tampak sangat pasif dan lesu.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis awak media dan pengamatan tim redaksi, isu ini bermula dari unggahan viral di platform media sosial Threads oleh akun @ekarahmafh yang mencurigai adanya kejanggalan. Pengunjung tersebut menduga bahwa kondisi lemas yang dialami para kucing bukan sekadar kelelahan akibat eksploitasi, melainkan ada indikasi kuat penggunaan obat penenang atau obat tidur agar hewan-hewan itu lebih penurut.
Menanggapi kehebohan tersebut, Pemerhati Konservasi dan Animal Welfare dari Divisi Klinik Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (FKH Unair), Dr. Boedi Setiawan, M.P., drh., memberikan penjelasan mendalam. Menurutnya, secara biologis kucing memang memiliki siklus istirahat yang sangat panjang dibandingkan hewan peliharaan lainnya, di mana waktu tidur normal berkisar antara 12 hingga 16 jam per hari.
Lebih lanjut, Dr. Boedi menjelaskan bahwa pola aktivitas kucing umumnya terbagi secara alami pada pagi dan sore hari. Selepas makan dan merasa kenyang, terutama pada malam hari, hewan tersebut lazimnya akan menghabiskan waktu yang cukup panjang untuk tidur pulas tanpa ada gangguan medis.
Kendati demikian, pihak ahli tetap tidak menutup mata terhadap berbagai spekulasi miring yang berkembang di tengah masyarakat luas. Sebagaimana dilaporkan, Dr. Boedi menegaskan bahwa kondisi pasif yang terlihat di lapangan belum bisa dipastikan sepenuhnya murni karena siklus tidur atau akibat intervensi zat kimia tertentu.
Mengakhiri keterangannya, pakar kesehatan hewan tersebut mendesak agar pihak-pihak terkait segera memberikan klarifikasi terbuka guna meluruskan duduk perkara yang sebenarnya. Publik tentu berharap kesejahteraan satwa tetap menjadi prioritas utama agar tidak ada pihak yang merugikan atau mengeksploitasi hewan demi kepentingan semata.