Menghadapi potensi bencana alam yang datang tanpa diduga, pengelola Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Mojokerto mengambil langkah proaktif dengan membekali seluruh petugas serta warga binaan teknik penyelamatan diri. Berdasarkan pengamatan dan analisis awak media, lingkungan lembaga pemasyarakatan memiliki tantangan evakuasi yang jauh lebih kompleks dibandingkan fasilitas umum pada umumnya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kamar hunian yang terkunci rapat, keterbatasan ruang gerak, serta kepadatan penghuni menuntut prosedur darurat yang sangat terukur. Mengutip laporan resmi kegiatan tersebut, pihak lapas secara khusus menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mojokerto untuk memberikan pelatihan intensif terkait mitigasi gempa bumi di dalam area lapas.
Dalam pemaparannya, pemateri dari BPBD Kota Mojokerto, Muclis, menekankan pentingnya respons cepat pada detik-detik awal guncangan terjadi. "Peserta kami bekali prinsip Drop, Cover, Hold On untuk menghadapi guncangan pada detik-detik awal," ungkapnya menyoroti teknik perlindungan diri yang wajib dikuasai oleh setiap individu di dalam ruangan.
Selain teori perlindungan dasar, para peserta juga mendapatkan simulasi praktis mengenai tata cara evakuasi darurat, mulai dari cara melindungi kepala menggunakan bantal atau matras, menjauhi titik rawan pecahan kaca, hingga kepatuhan mengikuti instruksi petugas menuju titik kumpul yang aman.
Kepala Lapas Kelas IIB Mojokerto, Arifin Akhmad, menegaskan bahwa pemahaman prosedur darurat tidak cukup hanya disampaikan melalui teori di atas kertas. "Melalui kegiatan ini, kami berharap petugas maupun warga binaan memahami langkah yang harus dilakukan ketika terjadi bencana, sehingga penanganan dapat berjalan sesuai prosedur dan tetap mengutamakan keselamatan," ujarnya.
Dengan adanya program mitigasi bencana yang komprehensif ini, pihak lapas optimistis koordinasi antara petugas dan warga binaan akan semakin solid. Langkah antisipatif tersebut diharapkan mampu menekan risiko terburuk sekaligus menciptakan rasa aman di lingkungan pemasyarakatan.