Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menutup sesi perdagangan hari Selasa dengan catatan positif. Mata uang Garuda berhasil bangkit tipis dan bertengger di level Rp17.899 per dolar AS setelah melalui dinamika pasar yang cukup kompetitif.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan data pasar yang dihimpun, rupiah tercatat mengalami kenaikan sebesar 18 poin atau setara dengan 0,10 persen. Angka ini menunjukkan perbaikan posisi dibanding penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.917 per dolar AS.
Menanggapi pergerakan tersebut, Ibrahim Assuabi selaku analis mata uang terkemuka memberikan pandangannya. Menurut analisis awak media dan pengamatan pasar, tren positif ini tidak lepas dari meredupnya ekspektasi pasar terhadap agresivitas bank sentral Amerika Serikat.
Penguatan rupiah dipengaruhi menurunnya potensi kenaikan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed. "Data ketenagakerjaan dan inflasi yang lebih lemah ini telah mengurangi kemungkinan adanya kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan tanggal 27-28 Oktober mendatang," ucap Ibrahim.
Lebih lanjut, tim redaksi mencatat bahwa salah satu indikator utama yang kini menjadi sorotan tajam para pelaku pasar global adalah data Personal Consumption Expenditures Amerika Serikat. Indikator ekonomi ini memegang peranan krusial dalam menentukan arah kebijakan moneter global selanjutnya.