Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan pada penutupan perdagangan. Berdasarkan pengamatan dan analisis awak media, pergerakan mata uang domestik menunjukkan tren koreksi tipis di tengah tingginya dinamika pasar keuangan global yang sarat ketidakpastian.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan data perdagangan, rupiah tercatat turun 3 poin atau sekitar 0,02 persen ke posisi Rp17.981 per dolar AS, melemah tipis dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.978 per dolar AS. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian para pelaku pasar dalam merespons berbagai sinyal ekonomi global yang berkembang.
Ibrahim Assuabi selaku pengamat dan analis mata uang menilai bahwa pelemahan tipis rupiah tersebut sangat dipengaruhi oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan lanjutan dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
"Karena tingginya harga minyak, para pelaku pasar memperhitungkan adanya pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh The Fed, menyusul kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuannya tanggal 15-16 September lalu, yang merupakan kenaikan suku bunga dalam tiga tahun terakhir," ungkap Ibrahim sebagaimana dilaporkan Antara.
Mengutip laporan dari otoritas pasar, ekspektasi ketatnya kebijakan moneter tersebut kian tercermin jelas melalui data CME FedWatch. Saat ini, pelaku pasar bahkan memproyeksikan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan bulan Oktober mendatang telah menyentuh angka 70 persen.