Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur memastikan bahwa peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Gunung Kawinajang telah berhasil dipadamkan sepenuhnya oleh tim gabungan di lapangan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan resmi dari pihak berwenang, musibah karhutla yang mulai melahap kawasan tersebut sejak awal Oktober ini telah menghanguskan area seluas satu hektare sebelum akhirnya berhasil dikendalikan secara total.
Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto mengungkapkan bahwa petugas telah melakukan penyisiran menyeluruh di sekitar lokasi kejadian untuk memastikan tidak ada lagi sisa bara api yang berpotensi memicu kembalinya kobaran api.
Sudah padam kemarin, dan telah dicek sudah tidak ada titik api yang tersisa, demikian pernyataan Gatot Soebroto dikutip dari laporan tim redaksi.
Lebih lanjut, pihak BPBD Jatim menegaskan bahwa seluruh personel kini disiagakan selama 24 jam penuh guna memantau perkembangan situasi dan mengantisipasi potensi ancaman titik api baru di berbagai wilayah rawan di Jawa Timur.
Dari analisis tim redaksi, tantangan penanggulangan bencana di wilayah ini semakin berat akibat kombinasi musim kemarau panjang yang tidak hanya memicu karhutla, tetapi juga memperluas krisis kekeringan di banyak kabupaten dan kota.
Catatan instansi terkait menunjukkan bahwa akumulasi luas lahan yang terbakar akibat ratusan insiden karhutla sejak pertengahan tahun ini telah mencapai ribuan hektare di berbagai kawasan konservasi dan pegunungan penting.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jatim Satriyo Nurseno menjelaskan bahwa puluhan kejadian tersebut tersebar merata di berbagai daerah dan memerlukan penanganan ekstra ketat guna mencegah kerusakan ekosistem yang lebih luas.
Total 9.540,25 hektare terbakar sejak Juni 2026 sampai awal Oktober ini, ungkap Satriyo Nurseno sebagaimana dilaporkan oleh media massa.
Meskipun sebagian besar titik api utama di berbagai kawasan pegunungan kini telah berangsur padam, pengawasan intensif terus dilakukan secara digital melalui pemanfaatan sistem pemantauan cuaca dan titik panas untuk mengantisipasi potensi susulan.