Duka mendalam menyelimuti keluarga kecil Ida Saidah (35) dan suaminya, Mustofa (43), warga Desa Bandaran, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Anak ketiga mereka yang bernama Mohammad Gazal Al Farizki (3) harus menghembuskan napas terakhirnya setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Mohammad Noer Pamekasan pada Selasa, 22 September 2026, sekitar pukul 12.30 WIB.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis awak media, kasus ini kembali membuka mata publik terhadap peliknya birokrasi serta keterbatasan akses layanan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu di daerah. Mengutip laporan yang dihimpun, keluarga korban sempat mengalami kendala finansial yang berat sejak awal sang anak jatuh sakit, mulai dari biaya perawatan mandiri, puskesmas, hingga mengandalkan program bantuan pemerintah untuk warga miskin.
Sebelum dilarikan ke rumah sakit rujukan, balita malang tersebut sempat diperiksa di puskesmas setempat, namun orang tua memilih membawanya pulang karena kekhawatiran membengkaknya biaya harian. Di tengah kondisi kesehatan anak yang kian memburuk, keluarga akhirnya memutuskan mengurus program Biakes Maskin agar mendapatkan fasilitas pelayanan gratis di RSUD Mohammad Noer Pamekasan.
Kendati demikian, ujian berat kembali menimpa keluarga nelayan tersebut ketika sang buah hati harus segera dirujuk ke RSUD dr Soetomo Surabaya guna menjalani pemeriksaan CT Scan otak. Naas, kepastian rujukan yang dinanti-nanti tak kunjung datang selama lima hari penuh dengan alasan kendala kamar serta belum adanya informasi lanjutan dari pihak rumah sakit.
Menurut pengakuan sang ibu, ia berulang kali menanyakan perihal kejelasan rujukan tersebut kepada tenaga medis namun hanya mendapati jawaban menunggu. Pihak keluarga bahkan menduga lambatnya penanganan rujukan ini berkaitan dengan status administrasi pembiayaan kesehatan masyarakat miskin yang mereka gunakan.
Hingga pada akhirnya, nyawa balita tiga tahun itu tidak tertolong setelah sempat masuk ke ruang ICU dalam kondisi kritis. Dari pengamatan tim redaksi, peristiwa tragis ini menuntut evaluasi menyeluruh dari instansi terkait agar prosedur penanganan darurat dan rujukan pasien tidak lagi terhalang oleh birokrasi yang berbelit-belit.