Bank Indonesia memantau pergerakan likuiditas dan penyaluran pembiayaan di tengah dinamika perekonomian nasional yang terus menunjukkan tren pemulihan. Berdasarkan data terbaru, fasilitas kredit perbankan yang telah disetujui namun belum ditarik oleh debitur atau yang dikenal sebagai undisbursed loan masih berada di angka yang cukup fantastis.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan otoritas moneter, nilai kredit nganggur tersebut tercatat menyentuh kisaran Rp 2.548 triliun hingga periode Juli 2026. Tingginya angka dana yang belum terserap ini tidak lepas dari kombinasi faktor penawaran dari sisi perbankan serta tingkat permintaan riil dari para pelaku usaha di lapangan.
Mengutip keterangan resmi dari Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti, dinamika penyaluran pembiayaan sepanjang kuartal II 2026 sebelumnya lebih banyak didominasi oleh aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan program pemerintah. Sementara itu, minat korporasi atau sektor swasta dalam mengajukan ekspansi pembiayaan terpantau masih terbatas.
"Data terakhir, kami melihat sektor swasta itu sudah mulai bergerak naik. Artinya, dari sisi permintaannya itu sudah mulai ada geliat untuk melakukan kredit," ujar Destry dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta.
Dari sisi penawaran, pengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa sebelumnya sejumlah bank komersial cenderung memilih untuk memarkir likuiditas berlebih mereka pada instrumen surat berharga yang minim risiko. Langkah ini diambil ketika tingkat permintaan ekspansi kredit dari dunia usaha masih berada dalam fase wait and see.
Namun, dengan adanya sinyal kebangkitan minat korporasi swasta saat ini, optimisme terhadap bergeraknya sektor riil mulai terbuka lebar. Peningkatan permintaan pembiayaan ini diyakini bakal mendongkrak kapasitas produksi nasional serta mengairkan kembali roda perekonomian secara lebih luas.