Pemerintah Indonesia resmi memulai langkah besar dalam merawat kejayaan sejarah nusantara lewat pembangunan Museum Agung Majapahit di kawasan Trowulan, Mojokerto. Proyek mercusuar yang menyedot anggaran fantastis sebesar Rp 148,6 miliar ini diproyeksikan tidak hanya menjadi tempat menyimpan benda purbakala, tetapi juga disulap sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis budaya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Menteri Kebudayaan, Fadli Zon menegaskan bahwa perancangan kawasan wisata sejarah ini telah melalui sayembara ketat yang dimenangkan oleh tim arsitek di bawah komando Ar Thoat Fauzi. Mengusung filosofi Surya Majapahit, bangunan megah tersebut dirancang ramah lingkungan dan dibekali panel surya guna menekan biaya operasional harian.
Mengutip pernyataan Fadli Zon saat peletakan batu pertama, "Proses sudah kami laksanakan dengan sayembara waktu itu dan hasil sayembara sudah menjadi kesepakatan bahwa inilah desain yang dianggap paling cocok, paling layak serta environmentally friendly."
Dari analisis tim redaksi, ambisi besar pemerintah ini berkaca langsung pada kesuksesan Museum Versailles di Prancis yang mampu meraup pemasukan puluhan miliar rupiah per harinya hanya dari tiket masuk wisatawan. Konsep sirkular ekonomi semacam inilah yang ingin diadopsi untuk mengangkat harkat peninggalan Kerajaan Majapahit di kancah internasional.
Secara arsitektural, kompleks museum ini akan berdiri gagah di atas lahan seluas kurang lebih 10,2 hektare dengan total 30 hingga 32 bangunan pendukung. Mulai dari 13 ruang pamer tetap, ruang imersif berbasis teknologi digital untuk kalangan Gen Z, area playground anak, hingga ruang kontemplasi disiapkan guna menghidupkan kembali narasi kejayaan masa lampau.
Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Restu Gunawan menambahkan bahwa struktur kawasan dibagi menjadi empat kuadran utama meliputi Sunset of Majapahit, Menuju Majapahit, Pusaka Majapahit, serta Sunrise of Majapahit. Seluruh bangunan dipersolek menggunakan material bata merah demi menjaga keotentikan nuansa era klasik.
Sebagaimana dilaporkan pihak kementerian, proyek ambisius berdurasi pengerjaan cepat ini ditargetkan rampung pada penghujung tahun ini sehingga tahap kurasi serta penataan koleksi benda cagar budaya yang mencapai angka 88.000 artefak bisa segera dimulai pada tahun depan.