Kabar mengejutkan datang di balik tragedi tewasnya prajurit TNI Angkatan Udara, Serda Ahmad Muzammil Farisa. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya akibat dugaan penganiayaan brutal oleh para senior, korban ternyata sempat mengantongi tawaran emas untuk menempati posisi strategis di pusat Mabes TNI AU.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pihak keluarga, kabar tawaran penempatan baru tersebut disampaikan langsung oleh almarhum kepada sang ayah, Toni Eko Prasetyo. Pertemuan penuh makna itu terjadi di Jakarta pada Selasa (8/9/2026), ketika almarhum tengah menjalankan tugas mendampingi Penjabat Bupati Madiun.
"Pernah cerita kalau dapat tawaran penempatan kerja baru. Tawaran ditarik ke pusat Mabes TNI AU, yang menawarkan sudah purna tugas," ujar Toni mengutip pernyataan putranya saat memberikan keterangan kepada awak media.
Sebelumnya, diketahui bahwa Serda Ahmad mengemban tugas sebagai Adminu Urtu Subbagmin Bagum Setdis Dispeskau di kawasan Halim Perdanakusuma. Adapun tawaran jabatan baru yang singgah di tangannya adalah posisi sebagai staf Kadispsiau atau Kepala Dinas Psikologi TNI Angkatan Udara.
Kendati demikian, almarhum kala itu belum sempat memberikan kepastian atau jawaban final atas tawaran menggiurkan tersebut. Sang ayah bahkan sempat melontarkan kekhawatiran mendalam mengenai potensi kecemburuan sosial dari rekan-rekan seprofesi akibat tawaran posisi prestisius itu.
"Sempat saya tanya karena khawatir ada yang iri dengan jabatan baru. Le, apa tidak ada yang iri nanti?" ucap Toni mengenang kembali percakapan terakhirnya bersama sang anak tercinta sebelum musibah merenggut nyawanya.
Namun, takdir berkata lain dan berputar begitu cepat. Hanya berselang beberapa hari dari momen pertemuan tersebut, pihak keluarga justru dikejutkan oleh kabar duka bahwa Serda Ahmad telah meninggal dunia secara tidak wajar akibat aksi kekerasan fisik.
Berdasarkan hasil penelusuran dan analisis dari tim redaksi, insiden tragis ini amat disayangkan karena berawal dari persoalan sepele yang sama sekali tidak sepadan dengan nyawa manusia. Peristiwa kelam tersebut diduga dipicu oleh kekeliruan kecil saat korban memenuhi pesanan mi kuah dari para seniornya.
Mengutip laporan yang diterima pihak keluarga, korban dikabarkan mengalami tindakan penganiayaan sebanyak dua kali dalam rentang waktu singkat sekitar empat jam. Aksi keji pertama terjadi pada Rabu (9/9/2026) malam pukul 23.00 WIB, sebelum akhirnya berlanjut pada gelombang kekerasan kedua pada Kamis (10/9/2026) dini hari pukul 03.00 WIB yang berujung pada kematian korban.
Kasus ini sontak memicu sorotan tajam dari berbagai kalangan publik terhadap pentingnya pengawasan internal di lingkungan militer. Publik berharap penegakan hukum dapat berjalan secara transparan dan adil demi mengusut tuntas keterlibatan keempat oknum senior yang diduga menjadi pelaku utama.