Kesenian tradisional Ludruk yang lahir dan tumbuh sebagai bagian dari identitas kultural masyarakat Jawa Timuran kini tengah menghadapi ujian berat di tanah kelahirannya sendiri. Jejak sejarah teater rakyat yang pernah berjaya di Jombang itu lambat laun semakin meredup, sementara ruang untuk regenerasi maupun pengembangan ekspresi seni tersebut belum menemukan bentuk yang kokoh.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis awak media, situasi memprihatinkan ini tecermin dari minimnya pementasan Ludruk dalam berbagai agenda resmi perayaan hari jadi kabupaten dalam beberapa tahun terakhir. Realitas pahit tersebut lantas memantik kegelisahan mendalam bagi kolektif sineas muda Madjoemapan Films untuk meraba kembali denyut nadi kesenian tradisional ini.
Melalui film dokumenter pendek berjudul "Anak yang Hilang", sutradara Ahilla Kammala bersama produser Donny Darmawan berupaya mempertanyakan keberadaan kesenian rakyat tersebut di Jombang. Karya audio-visual berdurasi sekitar 10 menit ini tidak hanya merekam aktivitas kelompok yang masih bertahan seperti Ludruk Budhi Wijaya dan Mustika Jaya, tetapi juga memotret kontrasnya perkembangan seni serupa di Surabaya lewat kesaksian seniman senior Abah Kartolo.
Menurut penjelasan Ahilla Kammala, dokumenter ini sengaja dirancang untuk membuka diskursus publik secara transparan mengenai realitas Ludruk yang berjalan terseok-seok. "Memang, hasilnya berbeda. Di Surabaya Ludruk memang menemukan "rumahnya". Sedangkan di Jombang, masih menjadi tanda tanya besar," ungkap Ahilla dikutip dari laporan tim kreatif.
Pendekatan yang dipilih oleh Madjoemapan Films tergolong segar dan keluar dari pola konvensional karya dokumenter seni pada umumnya. Sebagaimana dijelaskan Donny Darmawan, alih-alih hanya mendewakan aspek keluhuran warisan budaya, pihaknya sengaja menyoroti jurang pemisah antara realitas Ludruk dengan realitas keseharian generasi muda saat ini.
Pemutaran perdana film tersebut yang dikemas dalam kegiatan "Cangkrukan Ludruk" di Bait Kata Library Jombang sukses memancing dialog lintas generasi dari berbagai kalangan. Sejumlah tokoh seperti pimpinan Ludruk Budhi Wijaya Didik Purwanto dan perwakilan Mustika Jaya Tri Setio Juono sepakat bahwa ketiadaan jembatan penghubung antara seniman senior dan anak muda menjadi kendala utama dalam estafet ilmu pertunjukan ini.
Menanggapi persoalan tersebut, pegiat budaya lokal Didin Achmad menegaskan pentingnya kehadiran negara melalui institusi pendidikan untuk mengintegrasikan muatan lokal seni pertunjukan. "Dalam Ludruk, anak bisa belajar menuang ide dan pemikiran kritisnya terhadap kondisi sekitarnya," tegas Didin Achmad dalam forum diskusi terbuka tersebut.