Suasana khusyuk dan penuh haru menyelimuti pelataran Istana Gebang, Kota Blitar, tatkala belasan jurnalis dari berbagai media berkumpul dalam lingkaran solidaritas. Berbeda dari rutinitas liputan sehari-hari yang penuh dengan perburuan narasumber dan kejar-kejaran tenggat waktu, para kuli tinta ini justru duduk bersila memanjatkan doa bersama. Pengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa aksi ini murni didorong oleh rasa kemanusiaan dan empati mendalam terhadap rekan seprofesi yang tengah menghadapi musibah di garis depan pemberitaan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan yang dihimpun, kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk keprihatinan atas musibah yang menimpa lima jurnalis beserta tiga kru kapal yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. Mereka dikabarkan hilang kontak ketika tengah menjalankan tugas peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. Kehadiran perwakilan Polres Blitar Kota dalam acara itu turut memberikan pengawalan moral serta memperkuat solidaritas lintas instansi di daerah.
Momen paling menyentuh hati terjadi saat para peserta aksi dengan perlahan melepaskan serta menggantungkan kartu pers mereka di area tersebut. Gestur simbolis ini menyuarakan pesan yang sangat kuat bahwa meski tugas jurnalistik memiliki nilai kemuliaan yang tinggi, tidak ada satupun karya berita atau laporan liputan yang sebanding dengan harga sebuah nyawa manusia.
Koordinator Aksi, Yoyok Agusta, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud dukungan moral kepada keluarga korban serta tim SAR gabungan yang terus berjuang di lapangan. "Aksi ini adalah bentuk dukungan moral kami kepada keluarga korban dan tim SAR yang sampai detik ini masih berjuang di lapangan. Kami berharap kawan-kawan kami bisa segera ditemukan dalam kondisi selamat," tuturnya di lokasi kegiatan.
Dari analisis awak media, tragedi yang terjadi di Selat Sunda ini harus menjadi alarm keras bagi seluruh pekerja media di Tanah Air untuk lebih memperhatikan aspek mitigasi risiko. Seringkali tekanan kecepatan informasi membuat standar keselamatan di area bencana terabaikan. "Peristiwa ini bisa menimpa siapa saja di antara kita dalam menjalankan tugas. Ini pengingat keras bagi kita semua untuk tetap mengedepankan keselamatan. Tidak ada berita seharga nyawa," tegas Yoyok.
Hingga detik ini, seluruh harapan tertuju pada tim SAR gabungan yang masih gigih menyisir ombak perairan Selat Sunda demi menemukan para korban hilang. Lima jurnalis yang dicari meliputi Muhammad Bagus Khoirunnas dari LKBN Antara, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, serta fotografer lepas Donal Husni. Doa juga dipanjatkan bagi tiga pendamping peliputan yaitu Warta selaku kapten kapal, Sukarman sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto pemandu lokal.