Isu krusial mengenai ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan kini menjadi sorotan utama di Kota Malang. Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan secara resmi menggelar kegiatan bertajuk Rame-rame Pasar Hijau yang bertempat di Malang Creative Center pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Ajang tersebut berhasil menarik partisipasi setidaknya 40 pelaku usaha mikro kecil dan menengah binaan yang menunjukkan kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, kolaborasi lintas sektoral ini melibatkan berbagai elemen penting termasuk pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat Lokahita.
Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan, Abdullah Said, menjelaskan bahwa transformasi sistem pangan perkotaan harus mencakup penerapan urban farming hingga diversifikasi komoditas lokal. Tantangan terbesar saat ini datang dari dominasi generasi muda yang memiliki pola konsumsi instan serta menyisakan banyak sampah makanan.
"Pola konsumsi anak muda cenderung instan dan seragam, serta menyisakan banyak sampah makanan. Ini menjadi tantangan besar," ujar Said dalam pemaparannya.
Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Badan Pangan Nasional, Hamid Sangadji, menambahkan bahwa tata kelola pangan perkotaan seperti di Kota Malang harus dipandang sebagai satu sistem komprehensif. Mengingat statusnya sebagai kota pendidikan dengan mobilitas tinggi serta keterbatasan lahan, keanekaragaman pangan menjadi solusi esensial.
Pemerintah Kota Malang sendiri bergerak cepat dengan menyusun Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi Berbasis Sumber Daya Lokal sesuai amanat regulasi nasional. Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Malang, Elfiatr Roikhah, menyebutkan bahwa pihaknya kini fokus memperkuat pertanian perkotaan berbasis ekonomi sirkular.
"Salah satu bentuk inovasinya adalah kerja sama dengan Universitas Brawijaya untuk pengembangan ubi varietas Brawijaya yang dibudidayakan menggunakan sistem karung. Ini langkah efisien untuk memanfaatkan lahan yang terbatas," ungkap Elfiatur.
Selain ketersediaan pangan, tantangan besar lain yang dihadapi adalah tingginya volume sampah sisa pangan yang mencapai ratusan ton setiap harinya. Melalui pendekatan ekonomi sirkular, limbah tersebut diolah kembali menjadi pupuk organik serta pakan ternak demi menjaga stabilitas lingkungan dan rantai pasok.