Cuaca ekstrem berupa gelombang tinggi yang melanda perairan Gresik hingga Pulau Bawean tidak hanya melumpuhkan jalur transportasi laut. Di balik isolasi wilayah tersebut, tersimpan sebuah kisah perjuangan penuh haru dari seorang anak yang harus berjuang keras demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sedang terbaring kritis di rumah sakit.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis tim redaksi, insiden ini kembali membuka mata publik mengenai kerentanan wilayah kepulauan terluar yang sangat bergantung pada pasokan logistik dari daratan utama. Ketika cuaca buruk menutup akses kapal penyeberangan, persoalan kecil dapat dengan cepat berubah menjadi ancaman keselamatan yang serius bagi warga setempat.
H. Ridwan, seorang pengusaha asal Desa Sungaiteluk, Kecamatan Sangkapura, harus mengambil langkah ekstrem setelah mendapat kabar bahwa stok oksigen medis di RSUD Umar Mas'ud Bawean menipis. Krisis tersebut terjadi akibat kapal pengangkut logistik tidak dapat berlayar selama beberapa hari berturut-turut karena terjebak badai di laut.
Sebelum mengambil keputusan besar, sang ibu diketahui telah menjalani perawatan intensif selama lima hari di fasilitas kesehatan tersebut. Kondisi pasien yang masih sangat bergantung pada bantuan alat pernapasan membuat pihak keluarga tidak memiliki banyak pilihan selain merujuknya ke rumah sakit di Surabaya.
Mengutip laporan dari awak media, penerbangan darurat tersebut akhirnya direalisasikan pada Sabtu, 1 Agustus 2026, menggunakan pesawat Susi Air dari Bandara Harun Thohir Bawean menuju Bandara Juanda Surabaya. Pesawat tersebut disewa secara khusus dan penuh tanpa penumpang lain agar proses evakuasi dapat berjalan cepat.
Biaya yang harus dikeluarkan untuk penerbangan medis darurat tersebut sama sekali tidak sedikit. Ridwan mengaku harus merogoh kocek pribadi hingga Rp110 juta hanya untuk biaya sewa pesawat, belum termasuk berbagai persyaratan medis dan kebutuhan pendukung lainnya.
"Sewa langsung ke Susi Air Rp110 juta. Tapi uang saja tidak cukup. Semua formulir dan persyaratan medis harus dipenuhi terlebih dahulu. Belum lagi biaya lainnya," ujar Ridwan saat memberikan keterangan kepada wartawan.
Meskipun dihadapkan pada situasi yang sangat menegangkan dan biaya yang fantastis, Ridwan tetap memberikan apresiasi tinggi kepada para tenaga medis di RSUD Umar Mas'ud Bawean. Menurutnya, pelayanan yang diberikan oleh dokter dan perawat sudah sangat profesional, sigap, dan responsif dalam merawat pasien.
Permasalahan utama yang ia soroti murni terletak pada keterbatasan pasokan logistik dan cadangan oksigen yang rentan terputus saat cuaca buruk melanda jalur pelayaran. Ia berharap peristiwa ini menjadi evaluasi penting bagi pihak terkait untuk menambah stok cadangan oksigen di pulau tersebut sebagai langkah antisipasi jangka panjang.
"Pelayanannya sangat bagus, ramah, dan responsif. Hanya saja persediaan oksigen perlu ditambah untuk antisipasi. Cuaca di jalur Bawean–Gresik sulit diprediksi sehingga stok cadangan sangat penting," ungkapnya.
Kisah perjuangan ini sekaligus menjadi gambaran nyata bagaimana masyarakat di wilayah kepulauan kerap harus mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan akses kesehatan yang layak di tengah keterbatasan infrastruktur dan hantaman cuaca ekstrem.