Pemerintah terus menggenjot percepatan pembangunan infrastruktur interkoneksi jaringan listrik antarpulau di Tanah Air. Dalam rencana strategis nasional, koridor Sumatera-Jawa ditetapkan sebagai prioritas utama untuk menghubungkan berbagai potensi sumber energi baru dan terbarukan langsung ke pusat-pusat industri serta kawasan permintaan listrik yang masif.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Elen Setiadi mengungkapkan bahwa proyek penghubung antarpulau ini krusial untuk menyatukan wilayah penghasil energi bersih dengan pusat pertumbuhan ekonomi baru, kawasan industri, hingga fasilitas smelter. Menurut pengamatan awak media, langkah ini sekaligus menjadi fondasi penting dalam transisi energi nasional jangka panjang.
Selain koridor utama Sumatera-Jawa, pemerintah juga memprioritaskan pengembangan jaringan yang menghubungkan Pulau Sumatera dengan Kepulauan Riau serta Kepulauan Bangka Belitung. Berdasarkan analisis tim redaksi, ekspansi jaringan ini disiapkan secara matang guna mengantisipasi lonjakan permintaan energi hijau di kawasan strategis yang berkembang pesat.
Khusus untuk wilayah Kepulauan Riau, penguatan interkoneksi dinilai sangat mendesak demi menopang ekspansi pesat industri pusat data di Batam dan sekitarnya. Wilayah Nongsa dan sekitarnya kini menjelma menjadi magnet baru investasi teknologi sehingga pasokan listrik bersih dari wilayah lain mutlak diperlukan.
Sejauh ini, baru jaringan listrik Jawa-Bali yang telah sukses terhubung secara optimal. Ke depan, pemerintah secara agresif mendorong realisasi interkoneksi di berbagai pulau besar lainnya seperti Kalimantan, Sulawesi, hingga wilayah kepulauan penyangga dalam target waktu antara tahun 2032 hingga 2035.
Seluruh rangkaian proyek strategis ini merupakan bagian integral dari ambisi besar pembangunan green super grid sepanjang 70.000 kilometer yang ditargetkan rampung pada tahun 2040. Inisiatif masif tersebut diyakini mampu mengintegrasikan potensi EBT secara maksimal demi mendukung kemandirian energi nasional.