Tragedi kecelakaan laut yang menimpa KM Virgo Transport 8 di perbatasan perairan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur, menyisakan pekerjaan rumah besar terkait keselamatan pelayaran. Berdasarkan laporan terkini, proses pencarian korban masih terus digenjot oleh tim gabungan di tengah medan perairan yang dikenal rawan dan penuh tantangan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan pengamatan tim redaksi, insiden tragis ini menjadi alarm keras perlunya penguatan infrastruktur keamanan maritim secara komprehensif di jalur penyeberangan sibuk tersebut. Mengutip laporan dari berbagai pihak, letak geografis Masalembu yang menjadi titik temu arus laut dari Pulau Jawa dan Kalimantan menjadikannya jalur vital sekaligus rawan kecelakaan antarpulau.
Menanggapi kondisi darurat tersebut, legislator asal Pulau Masalembu, Darul Hasyim Fath, secara tegas mendorong pemerintah untuk segera mendirikan fasilitas Badan Keamanan Laut (Bakamla) di wilayahnya. Kehadiran pos tersebut dinilai sangat mendesak guna memaksimalkan deteksi dini sekaligus mempercepat respons penanganan ketika insiden serupa terjadi.
"Perairan laut Masalembu adalah pertemuan arus laut Pulau Jawa dan Kalimantan, sehingga perlu dibangun pos Bakamla," ujar Darul saat memberikan keterangan kepada awak media pada Rabu, 30 September 2026.
Lebih lanjut, Darul berpandangan bahwa pembangunan pos Bakamla jauh lebih strategis dibandingkan sekadar mendirikan pos pencarian dan pertolongan atau SAR biasa. Menurutnya, pos SAR memiliki keterbatasan karena hanya berfokus pada operasi penyelamatan pascakecelakaan, sementara Bakamla mampu menjalankan fungsi pengamanan, patroli rutin, hingga pencegahan dini.
"Pos Bakamla lebih tepat dibanding pembangunan pos SAR. Karena pos SAR hanya fokus rescue atau penyelamatan saja," tegasnya menambahkan penjelasan.
Selain aspek keselamatan pelayaran, keberadaan pos Bakamla juga diharapkan mampu menjawab keluhan para nelayan lokal terkait maraknya penggunaan alat tangkap ikan yang berbahaya. Melalui patroli laut yang lebih intensif lintas Jawa dan Kalimantan, pengawasan ekosistem serta perlindungan bagi nelayan tradisional diyakini bisa berjalan jauh lebih optimal ke depannya.
Sebagai catatan, usulan pembangunan fasilitas vital ini sebenarnya bukan kali pertama disuarakan oleh masyarakat setempat. Sebelumnya, para nelayan di Masalembu telah melayangkan permohonan resmi kepada pemerintah kabupaten, meski hingga kini realisasi dan tindak lanjutnya masih dinanti publik.