Dunia sepak bola Inggris tengah diguncang oleh keputusan besar terkait kasus pelanggaran finansial yang menyeret nama besar Manchester City. Di tengah gelombang perdebatan publik, mantan juru taktik Stoke City, Tony Pulis, melontarkan pengakuan mengejutkan yang menarik perhatian para pecinta sepak bola.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis awak media dari kolom yang ditulisnya, Pulis secara terbuka menyatakan bahwa dirinya merasa "dicurangi" menyusul kekalahan menyakitkan tim asuhannya pada final Piala FA tahun 2011 silam. Pada laga puncak yang digelar di Stadion Wembley tersebut, Stoke City harus takluk tipis 0-1 di tangan Manchester City akibat gol tunggal dari Yaya Toure.
Mengutip laporan dari BBC Sport, Pulis mengungkapkan bahwa dinamika emosional yang dirasakannya kini telah berubah drastis setelah keluarnya vonis bersalah tersebut. Dulunya, kekalahan itu dapat diterima karena mereka merasa dikalahkan oleh skuad bertabur bintang asuhan Roberto Mancini, namun kini situasinya dinilai meninggalkan rasa yang tidak sedap.
"Kami kalah, tetapi dari tim yang terbukti melanggar aturan finansial yang ditetapkan oleh Premier League," ujar Pulis dalam kolomnya. Ia menambahkan bahwa pelanggaran tersebut tidak hanya berdampak pada satu pertandingan final saja, melainkan memberikan jalan bagi dominasi Manchester City di kancah sepak bola Inggris selama lebih dari satu dekade.
Kendati demikian, Pulis, yang kini berusia 68 tahun, bersikap realistis mengenai kemungkinan perubahan status juara masa lalu. Ia mengaku tidak berharap pihak Manchester City akan mengembalikan trofi Piala FA maupun medali kemenangan yang telah mereka genggam kepada skuad Stoke City.
Menurut pandangan sang mantan manajer, sanksi yang paling masuk akal dijatuhkan kepada klub peraih treble tersebut adalah pengurangan poin yang masif serta denda finansial berskala besar. Meski demikian, kenangan pahit atas momen bersejarah yang direnggut secara tidak adil akan tetap membekas bagi para pendukung setia Stoke-on-Trent.