Ajang lari bergengsi Soekarno Run Banyuwangi bersiap mencuri perhatian publik nasional dengan menghadirkan konsep yang sarat nilai inklusivitas. Event olahraga yang menjanjikan total hadiah fantastis hingga Rp 1 miliar ini tidak sekadar menjadi ajang unjuk kecepatan bagi para pelari, melainkan juga wadah pemberdayaan sosial yang melibatkan kelompok rentan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis tim redaksi, langkah berani panitia dalam merangkul kelompok difabel memberikan warna tersendiri di tengah maraknya kompetisi lari jalan raya. Keterlibatan tersebut diwujudkan secara nyata melalui penyediaan fasilitas pemulihan fisik bagi peserta yang kelelahan usai melintasi garis finis.
Panitia Penyelenggara Soekarno Run Banyuwangi, Indra Agus, menjelaskan bahwa pihaknya menggandeng para penyandang disabilitas netra untuk berkolaborasi dengan tenaga fisioterapis profesional. "Teman-teman disabilitas netra bersama fisioterapis lainnya akan membantu para peserta yang mengalami masalah, terutama masalah pada kaki setelah race," ujar Indra, Minggu (13/9/2026).
Dalam praktiknya, teknik pemijatan khusus olahraga atau sport massage ini diarahkan untuk meredakan ketegangan otot serta mempercepat proses pemulihan stamina pelari. Meski demikian, pihak penyelenggara tetap menggarisbawahi bahwa layanan pijat ini difokuskan pada relaksasi pasca-lomba dan bukan sebagai penanganan medis darurat untuk cedera berat.
Berdasarkan laporan penyelenggara, titik layanan pemulihan tersebut akan dipusatkan di sekitar area finis yang berlokasi di Pendopo Sabha Swagata Blambangan. Mengingat target partisipasi yang menembus lebih dari 3.000 pelari dari 26 provinsi, panitia juga memperkuat sektor keselamatan dengan menyiagakan fasilitas mini hospital serta unit ambulans di berbagai titik strategis.