Awal kepemimpinan Ruben Amorim di AC Milan mulai menyedot perhatian publik sepak bola Eropa setelah sang pelatih asal Portugal itu belum sekalipun menelan kekalahan dalam empat laga perdana Serie A. Dari total empat pertandingan tersebut, Rossoneri berhasil mengamankan dua kemenangan dan dua kali hasil imbang, sebuah catatan stabil yang untuk sementara menempatkan mereka di peringkat kelima klasemen.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Sorotan tajam justru datang dari panggung Serie A terbaru saat AC Milan nyaris mengalami kekalahan perdana ketika tertinggal 0-2 lebih dulu dari Lazio pada paruh pertama. Beruntung, mentalitas pasukan Milan berbalik di babak kedua setelah Diego Moreira mencetak dua gol krusial dalam rentang waktu dua menit, dimulai sejak menit ke-65, hingga memaksa pertandingan berakhir dengan skor imbang 2-2.
Berdasarkan laporan dari Corriere dello Sport, media Italia menilai pendekatan taktik yang diterapkan Amorim menunjukkan sisi positif yang menjanjikan, terutama kemampuan tim dalam mendominasi jalannya laga di momen-momen tertentu. Mengutip ulasan media tersebut, "Dalam waktu lebih dari sembilan puluh hari Amorim menunjukkan kepada kita prinsip inspiratif dari sepak bola miliknya, permainan yang mendominasi, dan versi sebaliknya yang didominasi".
Di sisi lain, kritik konstruktif dilemparkan oleh Corriere della Sera yang menyoroti perlunya Amorim segera menemukan pakem permainan yang pasti serta komposisi pemain inti yang baku. Tim pengamat menilai terlalu banyaknya eksperimen justru berpotensi memperpanjang masa adaptasi tim di tengah ambisi besar klub pada musim ini. Sebagaimana ditulis dalam laporan tersebut, "Proyek ini menarik dan kompleks, namun satu hal yang pasti: setelah empat pertandingan, sudah saatnya menemukan identitas yang jelas bagi AC Milan miliknya".
Sementara itu, Gazzetta dello Sport mengangkat sudut pandang analitis perihal efektivitas kepelatihan Amorim yang kerap bergantung pada keajaiban pergantian pemain di babak kedua. Redaksi media ternama Italia tersebut mempertanyakan apakah kecerdasan taktik dalam merespons laga lewat pemain pengganti merupakan sebuah kejeniusan atau justru cermin dari kesalahan pemilihan starting XI sejak menit awal. Dari sudut pandang awak media, kebiasaan menyelesaikan masalah di paruh kedua akan menjadi bumerang ketika keberuntungan tidak lagi memihak.
Jika ditarik ke belakang, perjalanan awal Amorim di Serie A ini terasa sangat kontras dengan masa-masa kelamnya ketika menukangi Manchester United pada akhir 2024 lalu. Ketika memimpin Setan Merah, pelatih berusia muda tersebut langsung dihadapkan pada hasil minor di awal musim sebelum akhirnya dilepas klub Premier League tersebut pada Januari 2026. Kini, ujian sesungguhnya bagi konsistensi taktik Amorim di Italia akan kembali diuji saat AC Milan menjamu Benfica dalam ajang Liga Europa.