Oracle Corp mengambil langkah drastis dengan memperbesar skala pemutusan hubungan kerja di dalam perusahaan. Kebijakan ini diambil di tengah tekanan finansial yang mendalam akibat proyek pembangunan pusat data berskala besar untuk mendukung teknologi kecerdasan buatan, sebagaimana dilaporkan dalam dokumen regulator perusahaan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan pengajuan regulasi terbaru yang dirilis pada hari Jumat, total biaya yang dialokasikan untuk Rencana Restrukturisasi 2026 kini melonjak menjadi sekitar USD 2,8 miliar. Anggaran fantastis tersebut sebagian besar dialokasikan untuk pembayaran pesangon bagi para karyawan yang terkena dampak PHK, dengan tambahan dana sebesar USD 700 juta mencerminkan langkah lanjutan yang harus diambil perusahaan.
Tekanan finansial yang melanda Oracle bermula dari biaya masif yang digelontorkan untuk membangun infrastruktur pusat data AI demi melayani klien besar seperti OpenAI. Dalam laporan sebelumnya, perusahaan teknologi raksasa ini telah mulai memangkas ribuan posisi pekerjaan sejak awal tahun untuk menyelamatkan arus kas operasional mereka.
Chief Financial Officer Oracle, Hilary Maxson, dalam konferensi pers dengan para analis menjelaskan bahwa langkah efisiensi dan penyederhanaan birokrasi sangat krusial untuk menekan beban biaya sekaligus melindungi marjin keuntungan. Dari analisis awak media, strategi pengetatan anggaran ini menunjukkan betapa mahalnya biaya transformasi industri menuju era komputasi berbasis kecerdasan buatan.
Hingga akhir Mei lalu, catatan ketenagakerjaan menunjukkan Oracle memiliki sekitar 49.000 pekerja di Amerika Serikat dan 92.000 pekerja internasional. Angka tersebut mencerminkan penurunan drastis sebanyak 21.000 tenaga kerja dibandingkan tahun sebelumnya, menegaskan gelombang efisiensi masif yang tengah melanda korporasi teknologi global.