Departemen Keuangan Amerika Serikat harus menghadapi kenyataan pahit setelah program pembelian kembali atau buyback obligasi senilai USD 6 miliar gagal mencapai target. Alih-alih menurunkan imbal hasil obligasi pemerintah yang sedang melonjak, langkah tersebut justru membuat tingkat yield terus merangkak naik hingga menyentuh level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Para calon pembeli rumah dan masyarakat yang ingin melakukan refinancing pun harus gigit jari lantaran suku bunga KPR dilaporkan melesat mendekati bahkan menembus angka 7 persen.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Menteri Keuangan AS Scott Bessent secara tegas menepis anggapan bahwa program tersebut disebut sebagai sebuah kegagalan. Menurut Bessent, serapan pasar yang rendah terjadi karena minimnya penawaran dari para investor yang memilih untuk mempertahankan obligasi jangka panjang mereka. Bessent menilai dinamika pasar tersebut hanyalah gangguan sesaat dan menegaskan bahwa dirinya tidak ambil pusing dengan berbagai kritik yang datang dari para pelaku pasar keuangan.
Berdasarkan analisis dari awak media, kenaikan suku bunga KPR ini tidak lepas dari sentimen pasar yang kompleks termasuk lonjakan harga minyak dunia serta data indeks harga produsen yang kurang memuaskan. Matthew Graham selaku editor di Mortgage News Daily menjelaskan bahwa jumlah penawaran buyback yang lebih rendah dari ekspektasi otomatis memicu penurunan permintaan serta mendongkrak tingkat suku bunga lebih tinggi.
Di sisi lain, mantan kepala ekonom di J.P. Morgan Chase yaitu Anthony Chan berpendapat bahwa langkah yang diinisiasi oleh Menteri Keuangan sebenarnya memiliki niat mulia untuk membantu meringankan beban masyarakat. Namun, Chan menganalogikan hasil dari kebijakan tersebut ibarat usaha tokoh kartun Wile E. Coyote yang selalu berbuah kegagalan karena terkendala masalah defisit anggaran federal yang masih masif dan sulit dikendalikan.
Menurut pengamatan tim redaksi, pasar saat ini masih dibayangi oleh ketakutan akan inflasi yang persisten serta potensi kebijakan pengetatan moneter lanjutan. Keterkaitan yang erat antara imbal hasil obligasi tenor 10 tahun dan harga energi global membuat stabilitas ekonomi domestik Amerika Serikat berada di bawah tekanan besar di tengah berbagai tantangan geopolitik yang sedang berlangsung.