Suasana menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Malang tahun ini terasa berbeda dan kurang berpihak bagi para pelaku usaha musiman yang menggantungkan nasib dari penjualan atribut merah putih.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan pengamatan dan analisis dari awak media di lapangan, para pedagang bendera yang biasanya diserbu pembeli pada awal Agustus justru harus menghadapi kenyataan pahit berupa sepinya transaksi jual beli.
Salah satu penjual bendera di Jalan Mayjend Wiyono bernama Udin mengaku bahwa omzet usahanya merosot tajam hingga separuh lebih jika dibandingkan dengan pencapaian pada tahun-tahun sebelumnya.
"Menurun kalau dibandingkan beberapa tahun terakhir. Kalau tahun lalu 1 pekan jualan itu sudah laku 300 pcs sekarang baru 100 pcs. Harga semua kan naik semua bahan juga naik sepertinya itu pengaruh ke daya beli," keluh Udin saat ditemui awak media.
Udin bersama keluarganya yang telah melakoni tradisi berdagang bendera sejak tahun 1996 membuat sebagian besar produknya sendiri di rumah kawasan Buring, sementara sisanya dipasok langsung dari kota Bandung.
Senada dengan Udin, pedagang lain di kawasan Ksatrian bernama Bahrul Ulum yang kesehariannya bekerja sebagai pengemudi ojek online juga merasakan lesunya pasar atribut kemerdekaan pada tahun ini.
Menurut analisis tim redaksi, kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok di tengah masyarakat ditengarai menjadi faktor utama pemicu menurunnya minat warga untuk membeli atribut baru dan memilih menggunakan bendera lama.
"Sekarang lumayan sepi. Sekarang banyak harga-harga naik jadi gak banyak orang yang beli," ungkap Ulum dengan nada penuh kekecewaan.
Meski demikian, para pedagang tetap gigih membuka lapak mereka setiap hari hingga batas akhir penjualan pada pertengahan Agustus mendatang dengan harapan rezeki akan berpihak menjelang hari puncak perayaan.