Seluruh jalur pendakian yang melintasi kawasan Pegunungan Kawi atau yang kerap dikenal sebagai Putri Tidur dipastikan masih ditutup total untuk umum. Langkah ini diambil menyusul belum padamnya kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan tersebut dalam beberapa waktu terakhir.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis tim redaksi, penutupan ini merupakan langkah preventif yang krusial demi melindungi keselamatan para pendaki dari ancaman kepulan asap tebal, potensi pohon tumbang, serta kobaran api yang masih menyala di beberapa titik rawan.
Administratur Perum Perhutani KPH Malang, Kelik Djatmiko menegaskan bahwa pihaknya belum dapat memastikan kapan jalur pendakian akan kembali dibuka. Menurutnya, fokus utama saat ini tetap dicurahkan pada upaya penuntasan operasi pemadaman dan sterilisasi jalur.
"Sampai saat ini memang belum kita buka kembali jalur pendakian. Sebab, masih ditemukan titik api di kawasan Pegunungan Kawi," terang Kelik saat dikonfirmasi oleh awak media pada Minggu, 27 September 2026.
Lebih lanjut, Kelik menjelaskan bahwa proses pembukaan kembali jalur pendakian tidak bisa dilakukan secara gegabah meski intensitas api mulai mereda. Pihaknya mewajibkan serangkaian evaluasi menyeluruh serta pembenahan infrastruktur pendakian pascabencana.
Salah satu pekerjaan rumah yang cukup mendesak adalah melakukan penandaan ulang rute pendakian. Kebakaran hebat yang melanda dikhawatirkan telah merusak berbagai rambu petunjuk arah dan mengubah bentang alam vegetasi penanda jalur.
"Dengan adanya kebakaran ini, jalur pendakian bisa jadi harus ditandai ulang. Ini penting dilakukan agar para pendaki nantinya tidak tersesat saat jalur kembali dibuka," tegasnya menambahkan.
Sebagai catatan, penutupan sementara ini berdampak pada sejumlah jalur favorit pendaki seperti Gunung Buthak, Gunung Bokong, hingga Gunung Panderman yang berada di bawah pengelolaan kawasan tersebut.
Sementara itu, situasi penanganan di lapangan pada hari Minggu (27/9) menunjukkan bahwa titik api masih terpantau di kawasan Pitrang, tepatnya pada area jurang "Jalu Mampang". Kendala medan yang sangat terjal membuat tim darat kesulitan menjangkau lokasi demi keamanan personel.
Di sisi lain, dukungan operasi udara berupa water bombing yang sebelumnya dikerahkan di Pegunungan Kawi kini harus dialihkan ke wilayah lain yang dinilai lebih mendesak, seperti penanganan karhutla di Kalimantan.